Minggu, 03 Maret 2013

Diklat Guru Implementasi Kurikulum 2013: Bukan Ceramah, Tapi Diskusi

Srie, - Pelatihan guru dalam persiapan implementasi Kurikulum 2013 akan dilakukan dengan pendekatan yang berbeda.

Jika pelatihan guru selama ini lebih banyak diisi oleh kegiatan narasumber seperti dalam bentuk ceramah atau seminar, maka pada pelatihan yang akan dimulai bulan April mendatang, cara seperti itu tidak diperbolehkan lagi.

Kepala BPSDM-PMP, Kemdikbud, Syawal Gultom mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan model pelatihan guru sebelum mengimplementasikan Kurikulum 2013.

Ia memastikan, model pelatihan tersebut tidak akan lagi bernuansa ceramah, sebagaimana biasa terjadi pada diklat-diklat guru yang biasa diselenggarakan oleh Kemdikbud sebelumnya.

“Sudah ada SOP (standar operasional prosedur) diklatnya. Polanya tidak akan berbentuk ceramah, tapi mengutamakan diskusi untuk bertukar pikiran,” kata Syawal, Kamis (28/2), di Gedung Kemdikbud, Jakarta.

Pernyataan Syawal ini sekaligus untuk meyakinkan publik bahwa pelatihan guru yang akan diselenggarakan oleh Kemdikbud akan dapat mengubah paradigma dan cara berpikir guru dalam menerapkan kurikulum baru.

Selama ini, publik banyak tahu diklat-diklat yang diadakan oleh Kemdikbud terlalu didominasi ceramah-ceramah para narasumber, sehingga disangsikan akan mampu mengubah cara berpikir guru untuk mengikuti perubahan yang terjadi pada Kurikulum 2013.

“Saya akui, pelatihan guru yang berjalan selama ini banyak ceramahnya. Jadinya seperti seminar, bukan pelatihan,” ungkapnya.

Mantan Rektor Universitas medan (Unimed) ini menjelaskan, setiap pelatihan di masing-masing jenjang akan digelar selama 52 jam dalam lima hari. Selama kurun waktu pelatihan itu, kata dia, jangan sampai dijalankan seperti pelatihan guru yang biasa berjalan selama ini.

“Kalaupun ada ceramah, itu hanya disisipkan di tengah-tengah diskusi. Karena, kami paham, para guru tidak mungkin tidak membawa modal apa-apa saat mereka mengikuti diklat,” ujarnya.

Syawal menambahkan, alasan lain perubahan diklat dari model ceramah ke diskusi, adalah karena Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan tematik integratif.

Salah satu ciri dari pendekatan tersebut, lanjutnya, adalah guru harus bisa memancing peserta didik untuk berpikir dan bernalar.

“Nah, kalau pelatihan gurunya hanya ceramah, bisa-bisa (nantinya) proses belajar mengajar di kelas juga hanya ceramah. Tidak ada perubahan untuk kembangkan pola pikir,” tandasnya.

Jadwal Pelatihan

Terkait dengan jadwal pelatihannya itu sendiri, Syawal menjelaskan, pada tahap awal, pelatihan dimulai dengan penataran instruktur nasional yang sepenuhnya akan diisi oleh para dosen dari kampus LPTK (lembaga pendidikan tenaga kependidikan).

Alasan dipilihnya dosen untuk instruktur nasional, menurutnya, adalah karena berdasarkan kemampuannya, sehingga pelatihan yang akan dimulai bulan April itu bisa berjalan lebih cepat.

Selanjutnya, adalah pelatihan untuk jenjang guru inti, yang akan diisi oleh guru-guru berprestasi, baik nasional maupun internasional. Pelatihan yang diperkirakan mulai Mei ini, akan dipandu oleh para instruktur nasional yang telah menerima pelatihan sebelumnya.

Syawal mengatakan, saat ini nama-nama calon guru inti sudah ada di tangan dinas kabupaten / kota untuk diverifikasi, dan kemudian divalidasi kembali oleh Kemdikbud. [Baca: Anda Berminat Jadi Guru Inti? Daftar Saja!]

Pada tahap akhir, para guru inti ini akan melatih guru kelas dan guru mata pelajaran yang akan berlangsung pada bulan Juni. Dalam tugasnya nanti, setiap 3 guru inti akan melatih 30-40 guru kelas dan guru mata pelajaran. *** [Srie]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar