Jumat, 22 Februari 2013

Diklat Kurikulum 2013 dan Diklat Pasca UKG Bakal Digabung, PGRI Protes!


Srie, - Ketua Umum PGRI, Sulistiyo memprotes rencana Kemdikbud yang diduga akan menggabungkan pendidikan dan latihan (diklat) kompetensi guru dengan diklat implementasi Kurikulum 2013.

Menurut Sulistiyo, Kemdikbud telah berjanji akan menyelenggarakan diklat kompetensi guru, usai melaksanakan uji kompetensi guru (UKG) tahap satu dan tahap dua, tahun 2012.

Namun demikian, kata dia, sayangnya hingga saat ini janji Kemdikbud tersebut belum pernah terwujud.   

“Masalah diklat guru, kami ingatkan pemerintah. Seyogyanya, diklat itu ada dua. Yaitu, (diklat) peningkatan kompetensi sebagai tindak lanjut UKG, dan kedua, diklat untuk implementasi kurikulum,” kata Sulistiyo, Rabu (20/2), di kantor PGRI, Jakarta.

Dugaan penggabungan kedua diklat guru itu muncul, ujarnya, berdasarkan pernyataan Mendikbud, Mohammad Nuh, pada dua hari sebelumnya.

Menurut Sulistiyo, saat itu, Mendikbud pernah mengatakan bahwa untuk persiapan implementasi kurikulum baru, Kemdikbud berencana akan melakukan pelatihan guru secara nasional.

Selanjutnya, kata dia lagi, Nuh menjelaskan mengenai anggaran pelatihan implementasi kurikulum baru yang akan mengambil alokasi anggaran yang sudah ada pada APBN.

Sulistiyo menduga kuat, bahwa anggaran itu merupakan alokasi untuk diklat guru pasca pelaksanaan UKG tahun lalu.

Kemudian, lanjutnya, anggaran itu oleh Kemdikbud akan dialihkan penggunaannya untuk diklat guru terkait persiapan implementasi Kurikulum 2013.

“Kalau disatukan, mestinya porsi waktunya disesuaikan. Jangan dimanipulasi (antara diklat pasca UKG dengan diklat implementasi Kurikulum 2013, red.),” tegasnya.

Sulistiyo mengakui, kritiknya tersebut tidak berarti merupakan sikap PGRI yang menolak Kurikulum 2013.

Menurutnya, rencana pemerintah yang akan memberlakukan kurikulum baru mulai Juli tahun ini, dipersilakan untuk diimplementasikan.

Sikap PGRI, imbuhhya, hanya bisa mendorong agar guru sebaiknya mengikuti rencana pemerintah tersebut.

“Guru tidak mungkin mengatakan ‘tidak’, ketika pemerintah menyatakan siap (untuk tetap melaksanakan kurikulum baru). Tapi, persiapannya yang harus diperhatikan. Guru siap untuk sosialisasi, siap mengkaji dokumen, mengikuti diklat dan mengelola pendidikan,” pungkasnya.

Sebelumnya, Mendikbud, Mohammad Nuh, pernah menjelaskan mengenai anggaran yang dipersiapkan untuk pergantian kurikulum yang diklaim tidak ada masalah.

Saat itu, Nuh hendak memberikan klarifikasi mengenai adanya tudingan anggaran kurikulum yang membengkak spektakuler, dari semula diketahui Rp 684 miliar naik menjadi Rp 2,491 triliun. [Baca: Mendikbud Bantah Anggaran Kurikulum Membengkak Spektakuler].

“Yang kami sampaikan, anggaran kurikulum memang Rp 684 miliar. Ngapain kita anggarkan pelatihan guru tersendiri, kalau anggaran itu sudah ada. Itu tidak bengkak, sudah ada semua dalam APBN,” kata Nuh, Senin (18/2), di sela-sela acara Diskusi Publik Kurikulum 2013 yang diselenggarakan oleh Fraksi Partai Golkar (FPG), di gedung DPR RI.

Penjelasan, sekaligus bantahan Nuh itu terkait dengan pernyataan anggota Panja Kurikulum Komisi X DPR RI, Ferdiansyah, yang mengkritisi alokasi anggaran perubahan kurikulum yang terus berubah-ubah, dan jumlahnya dinilai terus naik secara spektakuler. [Baca: Anggaran Kurikulum Membengkak Spektakuler, Belum Clear!]. *** [Srie]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar