Minggu, 09 Desember 2012

Uji Publik Online: 75 Persen Tidak Setuju Draft Kurikulum SD



SRIE, - Sejak akhir November lalu, persiapan kurikulum baru telah memasuki tahap uji publik. Sejumlah rangkaian kegiatan uji publik telah dan masih akan terus dilakukan di sejumlah kota-kota di Indonesia hingga Akhir Desember 2012.

Untuk mempermudah publik memberikan tanggapan atas rancangan kurikulum 2013, Kemdikbud secara khusus membuka layanan secara online melalui alamat http://kurikulum2013.kemdikbud.go.id./. Layanan online ini dibuka sejak awal Desember dan akan ditutup pada 25 Desember 2012.
Oleh pihak pengelola, publik (pembaca) diarahkan untuk memberikan tanggapan berdasarkan nomor urut slide sesuai dengan isi materi yang terdapat di dalamnya.
Meski demikian, masih ada pembaca yang memberikan tanggapan tidak sesuai atau tidak terkait secara langsung dengan nomor slide yang ditanggapi.
Lalu, bagaimanakah kira-kira tanggapan publik atas draft kurikulum baru itu?
Dari 499 total tanggapan yang masuk, kami coba fokus pada nomor slide yang dianggap secara langsung paling mendapat perhatian publik, yaitu pada slide mengenai perubahan struktur kurikulum.
Pada Slide no. 41 (Lihat gambar di bawah) mengenai draft perubahan struktur kurikulum SD, hingga Sabtu (8/12) malam, terdapat 18 komentar dari 18 pembaca yang berasal dari berbagai daerah.



Dari jumlah tersebut, terdapat 3 orang secara jelas menyatakan setuju atas draft perubahan tersebut. Sebaliknya, ada 12 orang yang secara terang-terangan menanggapi tidak setuju.
Sementara sisanya, ada 1 orang yang memberikan tanggapan netral, dan 2 orang yang tanggapannya keluar dari konteks atau tidak terkait dengan topik  yang terdapat pada slide.
Dengan demikian, di luar tanggapan yang dianggap keluar dari konteks isi slide, maka terdapat 75 % tanggapan yang tidak setuju atas draft struktur kurikulum SD, kemudian 18,75 % yang setuju dan 6,25 % berpendapat netral.

Tanggapan setuju diberikan oleh Roni Sutriana asal Riau, Widya Astuti Nusri (Jogja) dan Hawe Anto (Banten). Roni dan Widya setuju dengan struktur kurikulum baru agar para guru dituntut lebih berpikir kritis atau berpikir lebih tinggi lagi. Sementara Anto menyetujui struktur baru kurikulum SD yang jumlah mapel-nya lebih sedikit.
“Saya sebagai guru sangat setuju dengan struktur SD tersebut, mata pelajaran maksimal hanya 6/7. Dan pemerintah harus tegas implementasinya, sehingga tidak ada satu sekolahpun yang memberikan beban tambahan berlebihan,” komentar Anto.
Pada sisi lain, ada 12 orang yang menyatakan tanggapan ketidaksetujuannya atas struktur kurikulum baru SD dengan berbagai alasan.
Antara lain, karena alasan peleburan mapel IPA-IPS, masalah muatan lokal, seperti Bahasa Daerah, B. Inggris atau Pramuka yang dianggapnya tidak masuk mapel inti, serta masalah alasan jumlah mapel yang dianggap tidak terlalu relevan.
Bendoank (Jakarta), Syaefullah Jambari (Jatim) dan Deki Joko (Jakarta) tidak setuju karena alasan penghapusan mapel IPA atau IPS. Berikut ini adalah salah satu komentar publik, terkait dengan masalah tersebut.
“Sangat disayangkan kalau IPA dan IPS digabung dengan mata pelajaran lain, karena dengan demikian akan adanya beberapa fokus yang berusaha untuk dipenuhi sekaligus, dan ini malah akan berpotensi menyulitkan pengajar/pendidik,” kata Dekijoko.
Ence Sutisna (Jabar) mempertanyakan alasan soal jumlah mapel yang dianggapnya bukan hal yang menjadi substansi masalah. Menurutnya, beban belajar siswa sesungguhnya tidak terletak pada jumlah mata pelajaran, akan tetapi lebih pada bobot kedalaman dan keluasan serta lingkup teori materi pada mata pelajaran yang diajarkan.
“Oleh karena itu, pengurangan jumlah mata pelajaran tidak akan ada artinya kalau bobot kedalaman, keluasan serta cakupan teori pada mata pelajaran yang ada nanti terlalu berat,” ujar Ence.
Di luar tanggapan yang setuju dan tidak setuju, terdapat 1 orang tanggapan yang bersifat netral yang mengatakan pendekatan tematik integratif merupakan tantangan terberat bagi para guru.
Lalu, ada 2 orang yang memberikan tanggapan di luar konteks, seperti mempersoalkan penghapusan mapel TIK yang sebenarnya merupakan mapel SMP, dan masalah saran yang bersifat redaksional.
Bagaimana dengan tanggapan Anda? (Dilanjutkan dengan tanggapan atas no. slide lain, terkait perubahan struktur kurikulum SMP dan SMA). *** [SRIE]
Catatan: 
1. Banyak publik yang memberi tanggapan terkait dengan pengembangan struktur kurikulum SD, namun ditulis di luar Slide no. 40. Artikel ini hanya mengolah tanggapan pada Slide no. 41 saja.
2. Terkait dengan gagasan peleburan mapel IPA dan IPS SD, masih banyak pihak yang menghendaki kedua mapel tetap dipertahankan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar