Selasa, 11 Desember 2012

Perubahan Paradigma Belajar Abad Ke-21


Srie, - Mengapa kurikulum harus berubah? Salah satu alasannya adalah karena saat ini telah terjadi perubahan paradigma belajar. 
Yaitu perubahan mengenai cara pandang atau cara berpikir mengenai bagaimana pembelajaran itu sebaiknya diselenggarakan.

Abad ke-21 telah mengubah paradigma belajar di dunia, yakni dari paradigma teaching menjadi paradigm learning. Pada abad sebelumnya, lebih dikenal sebagai paradigma teaching, dimana guru menjadi pusat belajar.
Pada paradigma learning, justru siswa yang menjadi pusat dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini, guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber belajar, dan peranannya telah bergeser lebih banyak ke arah sebagai fasilitator belajar.
UNESCO telah menjabarkannya dalam empat visi pendidikan abad ke-21 yang lebih mendasarkan pada paradigma learning (Indrajati Sidi : 2011). Keempat visi itu adalah (1) learning to think (belajar berpikir, berorientasi pada pengetahuan logis dan rasional);
(2) learning to do (belajar berbuat atau belajar hidup, berorientasi pada bagaimana mengatasi suatu masalah); (3) learning to do (belajar menjadi diri sendiri, berorientasi pada pembentukan karakter); dan (4) learning to live together (belajar hidup bersama, berorientasi untuk bersikap toleran dan siap bekerjasama).
Sementara itu, draft kurikulum 2013 mengadopsinya ke dalam model pembelajaran yang akan dijadikan rujukan dalam kurikulum baru. Dalam penjelasannya, pada abad ke-21 telah terjadi pergeseran paradigma belajar.
Pergeseran itu ditentukan oleh 4 hal penting yang menjadi ciri utama pembelajaran di era abad baru, yaitu (1) informasi (mudah diperoleh, tersedia di mana saja, kapan saja); (2) komputasi (penggunaan mesin yang lebih mempercepat pekerjaan); (3) otomasi (menjangkau banyak pekerjaan rutin); dan (4) komunikasi (mudah dilakukan, dari mana saja, kapan saja).


Selanjutnya, dengan keempat hal di atas, maka model pembelajaran pun akan mengalami pergeseran. Antara lain adalah sebagai berikut : (1) pembelajaran diarahkan untuk mendorong peserta didik mencari tahu (bukan diberi tahu) dari berbagai sumber observasi;
(2) pembelajaran diarahkan untuk mampu merumuskan masalah (menanya), bukan hanya menyelesaikan masalah (menjawab); (3)  pembelajaran diarahkan untuk melatih berpikir analitis (pengambilan keputusan), bukan berpikir mekanistis (rutin);
Dan (4) pembelajaran menekankan pentingnya kerjasama dan kolaborasi dalam menyelesaikan masalah. *** [Srie]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar