Senin, 26 Desember 2011

Ensiklopedi al-Qur’an, Hanif (2): Kecenderungan Manusia -2

Oleh M. Dawam Rahardjo

Keterangan lebih lanjut mengenai apa yang disebut sebagai hanif dijelaskan oleh ayat berikutnya (136) yang berbunyi:
Katakanlah (hai orang-orang mu’min): “Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishaq, Ya’kub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa, serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhan mereka. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya”.

Ayat di atas memberikan rincian lebih lanjut ciri-ciri kepercayaan seorang hanif itu. Pada ayat sebelumnya, diberikan ciri negatifnya, yaitu bukan mengikuti agama Yahudi dan Nasrani saja, bukan pula para penyembah berhala. Sedangkan ayat selanjutnya menyajikan keterangan positif, yaitu yang “beriman kepada Allah”, sebagaimana yang diturunkan kepada Allah serta diajarkan oleh nabi-nabi lain, sejak Ibrahim hingga Musa dan Isa.
Sebagaimana diketahui, Musa dianggap sebagai pendiri agama Yahudi, sedangkan Isa adalah penumbuh agama Nasrani. Bagi Islam, kesemuanya adalah orang-orang hanif atau muslim, dan sebagai nabi-nabi, mereka itu mendapat wahyu dari Allah dan mengajarkan kepercayaan kepada Allah. Dari ayat di atas dapat dsimpulkan bahwa Islam juga mengakui nabi-nabi agama lain yang mengajarkan kepercayaan yang sama, yaitu tauhid kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa.
Ada tiga versi penafsiran yang berkaitan dengan soal di atas. Pertama, adalah keterangan dari Muhammad Ali yang mengatakan bahwa ayat di atas memberikan bukti “keinternasionalan agama Islam”. Katanya selanjutnya: “Rukun iman agama Islam bukan hanya menyuruh kaum muslimin beriman kepada nabi-nabi Israel yang besar saja, melainkan ayat yang menerangkan beriman kepada apa yang diwahyukan kepada para nabi dari Tuhan mereka, membuat iman kepada kaum muslimin kepada para nabi menjadi begitu luas, seperti luasnya dunia”.
Keterangan kedua, diberikan oleh seorang ulama modern Indonesia, yang dikenal juga sebagai salah seorang tokoh besar pejuang kemerdekaan, Haji Agus Salim, bahwa menurut kepercayaan kaum muslimin, agama-agama yang dibawa oleh para nabi terdahulu, khususnya yang disebutkan dalam al-Qur’an, adalah agama Islam juga, karena intinya adalah “tunduk dan menyerahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa”.
Ketiga, adalah interpretasi yang mengatakan kepercayaan oleh bangsa apapun yang intinya cenderung kepada Tuhan Yang Maha Esa, adalah bersifat hanifah, dan karena itu orangnya disebut juga hanif. Menurut Cyril Classe, seorang sarjana muslim Amerika, dalam The Concise Encyclopedia of Islam, pada zaman jahiliyah, ada contoh orang hanif atau hunafa’ (jamak dari hanif) yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa secara murni mengikuti tradisi Ibrahim-Ismail dan tidak mengikuti paganisme, yaitu penyair besar Umayyah bin Abi Salt dan Quss bin Sa’idah, seorang orator. Agama Ibrahim itu disebut juga hanifiyyah atau hanafiyyah. Menurut Ibn Hisyam, sejarawan muslim penulis Sirah Muhammad (biografi Muhammad) itu, sebutan hanf sama dengan muslim, yang artinya “menyerah dan tunduk kepada Tuhan Yang Maha Esa”, yang hampir sinonim.
Kata hanif disebut dalam al-Qur’an sebanyak 14 kali dalam 9 surat. Menurut kronologi turunnya ayat, maka hanif pertama-tama disebut dalam surat Yunus ayat 105, yang berarti 9 surat Makiyah, lebih persisnya, surat-surat yang diturunkan dalam periode empat tahun terakhir nabi saw. tinggal di Mekkah. Soal ini perlu dikemukakan mengingat adanya analisa kaum orientalis yang mengatakan bahwa penyebutan istilah hanif dalam al-Qur’an yang dikaitkan dengan Ibrahim adalah merupakan reaksi terhadap kritik intelektual yang dilakukan oleh para pemuka agama Yahudi dan Nasrani di Madinah.
Tantangan terhadap dakwah nabi memang jelas ada dan ketika mengetahui konsep nabi mengenai Tuhan Yang Maha Esa, maka mereka kira-kira mengatakan: “Konsep Tuhan seperti itu sudah ada pada kami. Mengapa engkau tak bergabung kepada kami saja?”. Situasi seperti itulah yang digambarkan dalam surat al-Baqarah: 135. Memang, surat al-Baqarah sendiri adalah surat Madaniyah dan ayat itu menunjukkan bahwa dakwah nabi memang telah berhadapan dengan golongan yang mapan pada waktu itu di Madinah. Namun hal itu tidak berarti bahwa keterangan mengenai hanif dan nabi Ibrahim adalah merupakan reaksi terhadap kritik kaum Yahudi dan Nasrani.
Surat Yunus yang Makiyah itu menjelaskan dengan sendirinya hal yang bertentangan dengan kesimpulan dan pandangan kaum orientalis. Ini dapat dilihat dari segi kronologi, maupun sifat kalimatnya, seperti nampak dalam dalam ayat 104-105, yang berisikan kata hanif  yang pertama dalam al-Qur’an, dan ayat 106:
Katakanlah: “Hai manusia, jika kamu ragu-ragu tentang agamaku, maka (ketahuilah) bahwa aku tidak menyembah yang kamu sembah, selain Allah, tapi aku menyembah Allah yang akan mematikanmu dan aku telah diperintah supaya aku termasuk orang-orang yang beriman.”
Dan (aku telah diperintah pula): “Hadapkanlah mukamu kepada agama dengan tulus (hanif) dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik. Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberikan mudharat kepadamu selain Allah, sebab jika kamu berbuat demikian sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang zalim.” *** By Srie

(Bersambung........)

Catatan: Tulisan ini disalin dari Majalah Ulumul Qur’an No. 5 Vol. II 1990/1410 H.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar