Selasa, 13 Desember 2011

Ensiklopedi al-Qur’an, Hanif (1): Kecenderungan Manusia -1

Oleh M. Dawam Rahardjo
Satu di antara sekian konsep penting di dalam al-Qur’an adalah tentang “hanif”. Konsep ini muncul dalam berbagai pernyataan al-Qur’an yang mengandung kata itu, atau kata-kata yang menjadi turunannya. Dengan meneliti kata “hanif” dan kata-kata turunannya tersebut di dalam al-Qur’an, tulisan ini mencoba mencari kaitannya dengan konsep Tauhid dengan menelusuri evolusi konsep sentral ini dalam al-Qur’an; meliputi masalah kecenderungan manusia pada kebenaran, seruan pada agama Tauhid, Ibrahim sebagai Bapak monoteisme, berbagai teori tentang evolusi agama, dan akhirnya bermuara pada hikmah ibadah haji.

Salah satu istilah al-Qur’an yang memiliki arti sentral, tapi tingkat pengenalan masyarakat akan maknanya yang mendalam itu kurang sepadan dengan kedudukan sentralnya dalam sistem kepercayaan Islam adalah kata hanif. Sebenarnya, masyarakat Indonesia mengenal juga istilah itu. Terbukti, ia dipakai sebagai nama seseorang, sebagaimana orang juga memakai nama Muslim. Seorang tojoh mahasiswa dan cendekiawan muslim, menurut suatu cerita, memberikan nama anaknya yang kelima dan yang bungsu dengan nama Hanif, setelah ia mengetahui dan menyadari kedalaman arti kata itu dari temannya yang mendalam pengetahuannya tentang agama.
Seorang sastrawan dan pengarang sandiwara terkenal sebelum perang, dengan nama samaran El-Hakim, nama yang sebenarnya adalah Abu Hanifah, yang juga seorang dokter, politikus dan diplomat yang pernah menjabat Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan dalam Kabinet Hatta (1950). Sebenarnya, nama Hanifah itu biasanya dipakai untuk wanita. Tapi, kita sudah tentu mengenal nama besar Imam Abu Hanifah, pembentuk mazhab Hanafi, seorang di antara empat imam ahli fiqh yang dikenal beraliran rasional. Selain itu, kita kenal juga nama Hanafiah dalam keluarga muslim yang juga nama akhir salah seorang Imam besar madzhab Syi’ah. Kesemuanya, mengambil nama itu dari kata hanif.
Kecenderungan Manusia
Kata hanif berasal dari kata kerja hanafa, yahnifu, dan masdarnya hanifan, artinya condong, atau cenderung, dan kata bendanya kecenderungan. Tapi, dalam al-Qur’an, yang dimaksud adalah “kecenderungan kepada yang benar”, seperti dijelaskan oleh Mufassir modern, Maulana Muhammad Ali, dalam The Holy Qur’an, yang merujuk pada kamus Arab-Inggris, Lane Laxicon, dan kamus al-Qur’an, Al-Mufrodat fi al-Gharib karangan al-Raghib al-Isfahani.
Keterangan yang lebih lengkap tentang arti yang spesifik dari kata hanif ini diberikan dalam The Holy Qur’an, karya Hadrat Mirza Nasir Ahmad yang merujuk kepeda beberapa sumber: (a) orang yang meninggalkan atau menjauhi kesalahan dan mengarahkan dirinya kepada petunjuk; (b) orang yang secara terus-menerus mengikuti kepercayaan yang benar tanpa keinginan untuk berpaling dari padanya; (c) seseorang yang cenderung menata perilakunya secara sempurna menurut Islam dan terus-menerus mempertahankannya secara teguh; (d) seseorang yang mengikuti agama Ibrahim; dan (e) yang percaya kepada seluruh nabi-nabi. Keterangan yang terakhir itu merujuk kepada tafsiran mufassir besar, Ibnu Katsir.
Baik oleh Muhammad Ali maupun Nasir Ahmad, keterangan tersebut di atas ditujukan kepada ayat 135 surat al-Baqarah yang berbunyi:
Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk”. Katakanlah: “Tidak. Kami mengikuti agama Ibrahim yang lurus (hanif). Bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan yang musyrik (politeis)”.
Di situ, kata hanif diterjemahkan dengan “lurus”. Tapi, kata “lurus” di situ agaknya memerlukan penjelasan. Hamka, dalam Tafsir al-Azhar-nya berkata:
“Agama Ibrahim adalah agama yang lurus. Demikian kita artikan kata hanif. Kadang-kadang diartikan orang juga condong, sebab kalimat itu pun mengandung arti condong. Maksudnya, satu lurus menuju Tuhan atau condong hanya kepada Tuhan. Tidak membelok kepada yang lain. Sebab itu di dalamnya terkandung juga makna Tauhid”.
Dalam konteks ayat tersebut, lurus maksudnya adalah, pertama, tidak mengikuti ajaran Yahudi maupun Nasrani, dan kedua, tidak menganut politeisme atau penyembah berhala yang pada waktu itu berlaku di berbagai kalangan masyarakat, termasuk di antaranya orang-orang Arab.*** By Srie.

(Bersambung........)

Catatan: Tulisan ini disalin dari Majalah Ulumul Qur’an No. 5 Vol. II 1990/1410 H.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar