Senin, 28 November 2011

Ensiklopedi al-Qur’an, Islam (7): Dua Perspektif Islam, dan Kalimah al-Sawa’

Oleh M. Dawam Rahardjo

Pada umumnya, “Islam” dimengerti sebagai nama agama, dengan bukti Q.S. Ali Imran : 19 dan Q.S. al-Ma’idah : 3. Agama di sini adalah “agama yang terorganisasikan” (organized religion), agama formal atau agama mapan. Dalam al-Qur’an, pengertian agama diwakili oleh kata al-din. Agama Islam adalah al-din al-Islam. Pengertian semacam ini agaknya juga diterima oleh Fazlur Rahman. Namun, ia juga membuka kesempatan bagi penafsiran lain ketika menerjemahkan al-din menjadi “jalan kepatuhan yang benar” (the truth path of obidience).
Apabila kemudian istilah Islam diterjemahkan lagi, maka ayat 19, surat Ali Imran, bisa diterjemahkan menjadi: “Sesungguhnya, jalan kepatuhan kepada sisi Allah, adalah penyerahan diri (kepada Allah)”. Selanjutnya, Allah, seperti diketahui, memiliki nama-nama yang indah (al asma’ al-husna), antara lain al-Haq (Kebenaran) atau al-Adl (Keadilan), sehingga secara keseluruhan, ayat itu dapat diterjemahkan menjadi “Sesungguhnya, jalan kepatuhan (yang benar) di sisi Allah adalah penyerahan diri kepada Kebenaran (atau) Keadilan”.

Penafsiran melalui penerjemahan secara menyeluruh di atas menimbulkan pengertian tentang “iman”, sebagai keyakinan pribadi (personal) atau antar-pribadi (interpersonal) di satu pihak dan “agama”, sebagai gambaran dan hasil penelitian secara impersonal, seperti disebut oleh W.C. Smith yang disinggung di atas. Sebagai sesuatu yang impersonal, agama telah mengalami “obyektifasi” . Ia adalah suatu gambaran dari suatu hasil studi, di mana agama ditempatkan sebagai obyek. Di sini, penulis telah mengambil jarak dan tidak terlibat. Agama dilihat dari sudut orang luar, tidak saja orang luar dari suatu agama, melainkan orang luar dari semua agama. Di sini si pengamat atau si peneliti tidak terlibat dengan keyakinan pada suatu agama atau agama pada umumnya.
Dalam proses memperkenalkan agama (al-din), al-Qur’an pada mulanya dan pernah menempatkan Islam secara obyektif, bersama-sama dengan agama yang lain, khususnya agama Yahudi dan Nasrani. Ini nampak pada Q.S. al-Baqarah : 111-113.
Dan mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata : “Sekali-kali tidak akan masuk surga, kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi dan Nasrani.” Demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong (dari ilmu) belaka. Katakanlah: “Tunjukanlah bukti kebenaranmu, jika kamu adalah orang yang (bersikap) benar.”
“Tidak demikian), bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedangkan ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala di sisi Tuhan, tidak ada kekhawatiran kepada mereka dan tidak (pula) mereka menderita.
Dan orang-orang Yahudi berkata: “Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai pegangan.” Dan orang-orang Nasrani berkata pula: “Orang-orang Yahudi tidak mempunyai pegangan.” Padahal mereka sama-sama membaca al-Kitab.
Gambaran yang dilukiskan oleh al-Qur’an di atas adalah situasi di mana pertama, orang-orang Yahudi dan Nasrani merasa diri mereka saja yang benar. Mereka tidak mau mempertimbangkan iman atau agama yang dibawa oleh Rasulullah saw. Lebih dari itu, di antara orang-orang Nasrani dan orang-orang Yahudi, terjadi saling penolakan. Orang-orang Yahudi menganggap Nasrani sebagai tidak memiliki pegangan, demikian pula halnya orang-orang Nasrani menganggap orang-orang Yahudi sebagai tidak mempunyai pegangan.
Jawab al-Qur’an adalah, bahwa baik orang-orang Yahudi maupun Nasrani sebenarnya mempunyai pegangan, yaitu kitab mereka masing-masing. Di sini al-Qur’an turun dengan perumusan yang mendamaikan, dengan berpegang pada obyektivitas. Rumusan obyektivitas itu adalah bahwa agama yang benar adalah agama yang mengajarkan penyerahan diri pada Allah dan melakukan perbuatan baik.
Dengan kembali pada kitab mereka masing-masing, al-Qur’an menuntun orang-orang Yahudi maupun Nasrani untuk mengingat kembali patriach mereka masing-masing yang bertemu pada tokoh Ibrahim. Tentang Ibrahim ini Allah berfirman: “Sesungguhnya, Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia” (Q.S. al-Baqarah : 124). Dewasa ini “agama Ibrahim” atau “imam Ibrahim” adalah agama mayoritas umat manusia, belum diperhitungkan mereka yang percaya pada Tuhan Yang Maha Esa, tapi tidak secara formal memeluk agama Yahudi, Kristen atau Islam.
Arah yang ingin dicapai oleh al-Qur’an sebenarnya adalah kata sepakat (kalimah al-sawa’) di antara kelompok-kelompok yang bertikai, seperti tercantum dalam Q.S. al-Baqarah : 64 :
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah kita sampai kepada kata sepakat (kalimah al sawa’), di mana tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah sesuatu kecuali Allah, dan kita tidak akan mempersekutukan Dia dengan sesuatupun; dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan (sasaran pengabdian), selain Allah. Jika mereka menolak, maka katakanlah: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang menyerahkan diri kepada Allah (Muslim)”.
Inilah tawaran yang diberikan oleh al-Qur’an pada mereka yang mempunyai pegangan al-Kitab, yang sama-sama mengakui Ibrahim sebagai patriach, Sang Pemula. *** By Srie.

(Bersambung.....)

__________________
Keterangan: Artikel ini disalin dari majalah Ulumul Qur’an, volume III, no. 4 tahun 1992.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar